"Setiap pemuda berhak menjadi tampan di depan ibunya, mengerti kan? Lalu bagaimana hal lainnya seperti menjadi cengeng? Pada siapa dia harus berhadapan"
"dunia ini berisi banyak cinta sampai kau datang menghilangkan semuanya dan menyisakan satu untuk kusimpan"

gravitasi

dan gravitasi,
menjatuhkanku ke dalam pelukan
memaksaku terus berpegangan

saat kulupakan kehangatan
biarkan dirimu berjatuhan
aku kan bertahan
dalam gaya tarik

puisi syair gravitasi

"Pada dia yang membuatku jatuh cinta berkali-kalilah aku titipkan hatiku agar tak hancur berkeping-keping saat aku menjatuhkannya"
"Kamu adalah urgensitas yang menghilangkan semua kepentingan"
"ada keberadaan yang memang tidak bisa kuabaikan walau wajahku tak berhadapan"
"Ulat mengetahui dengan pasti dia akan menjadi kupu-kupu"

Sedetik

Keringat ini hadir
Singgah enggan beranjak
Kutemui sosok diri
Nyata mati dan menunggu

Wajah ini selalu menanti
Percikan air dari sang dewi
Menunggu sadar datang kembali

Aku meratap, berdiri dan terdiam
Sosok duka ini menyenangkan
Wajah derita ini menenangkan
Untuk didiamkan, ditertawakan

Sudahlah sudah
Sesal tak berakhir
Senang tak teraih
Kau lama melirih

Sedetik lalu maafkanlah
Detik ini kejarlah
Kejar

Kau perlu sedetik
Hanya satu

puisi syair sedetik

Tanah Telepati

Disini tanah kelahiran telepati
Asumsi akan merajai
Beratkan badan nurani kanan
Semua beresiko untuk tertelan

Bau ini begitu familiar
Disertai tarian jari berpindah-pindah
Tempat ini pernah dihuni
Dan kubuka kembali untuk didatangi

Selamat datang
Jiwa yang tak kubiarkan pergi
Kupaku pikiran dan kupasung hati
Untuk menciptakan satu komunikasi

tanah telepati puisi syair