"Di kesepian keramaian ini aku akan bertahan dengan berpegang kau akan dikirim tuhan dari balik rerumputan"
"Jangan lupa tetap hidup saat kehidupanmu bahkan menyebarkan bau kematian. Tidak ada kesempatan dan pilihan setelah mati"
"Tak henti-hentinya memecah duka membatu yang menghalangi kebahagiaan dan memusnahkan asa menggapainya. Dari satu tembok batu yang dihancurkan membuka peluang jutaan kebahagiaan baru. Tak ada duka yang tak perlu. Kupukul dengan keringat mata bila perlu."

Titik Jauh

Aku berdiri terlalu dekat dengan harap
Saling bersinggungan dengan kecewa
Kepalan siap meninjuku dari belakang

Aku takkan mengelak
Tinjunya memaksaku menguatkan diri
Mengeraskan pipi

Lambungku terkoyak
Urat badanku tak bergerak
Terlalu berat sampai serasa tamat

Ini bukan episode trakhirku
Klimaks ini tidak kuharapkan
Akulah sutradaraku

Egoisku kan membawaku
Idealisme kehidupan terbang
Menggandengku menembus awan
Melihat serumpun titik dari kejauhan

puisi syair titik jauh

Irisan

Dikubur oleh rasa namamu
Ku tau kau mengerti apa itu
Rasanya benar-benar tak terkendali

Tak perlu bersendu
Bukan waktunya
Sama sekali bukan waktunya
Arrgh…

Aku tak akan karam
Terlalu panjang masih harus berjalan
Sampai berlari menjauh dari irisan
Dunia mereka dan aku

puisi syair irisan

Surat Kau

Sepuluh jemariku akan bersatu
Sunyi tembok berbatu
Terpecah oleh hela yang terburu

Runtuhan ingatan kembali
Bergulir aspal retakan jalan
Tersenyumlah
Tetap tersenyumlah

Aku merelakan waktu ini
Untuk waktu kita yang abadi
Dan tentang mimpi
Yang selanjutnya kutitipi

surat kau puisi syair

"Penghancuran seratus rumah yang sudah tertata untuk membuat sebuah gedung baru"

Pasir Pantai

Terima kasih jejak pasir pantai
Membuatku menginginkannya
Menjaganya kelak dalam ruang malam

Tidak ada kerendahan
Pengkhianatan? Semua jadi pelajaran
Aku adalah akhiran
Kucoba menutup kisah kenangan

Pertemuan adalah anugerah
Pemahaman adalah buahnya
Dan tak usah memaksa rela
Waktu akan menghapusnya segera

Aku yang berdoa
Pada jejak pasir pantai
Pada ruang malam yang coba kuterangi

puisi syair pasir pantai

Burung

Burung melewati atap
Hinggap tak tentu dan terlelap
Bersuara dan semua mulai menatap

Apa burung tersenyum?
Emosi hanya barang nihil
Hidup itu sederhana

Setidaknya
Bagi burung beserta kawanannya

puisi syair burung

Pelarian Singkat

Titipkan aku padanya
Titik kehidupan tak berjalan semerana ini
Semua tak terasa sebosan ini
Pikirkan namaku malam ini
Aku bersiap terbang menjamumu

Walau raga kutinggal sebagian
Aku pastikan disana sesaat malam ini
Agar bukaan mataku nanti pagi mengingat wajahmu malam ini
Mengingat suara denyutmu

Persilakan aku
Aku mulai ketakutan
Hidup ini mulai hilang harapan

Aku mencari setitik cahaya
Dalam tumpuk kepingan hitam kegelapan
Kan kunyalakan untukmu

puisi syair pelarian singkat