"Saat dunia terasa terus menyerangmu, ubahlah sudut pandangmu karena dunia sedang memberitahu bagian mana yang harus kau perbaiki."

Idul Fitri

Bila kembali fitrah,
Jangan biarkan angin memadamnya
Saat kebiasaan mulai terarah
Jadikanlah karakter selamanya
Atau setidaknya setaun lamanya

Bila maaf mudah terucap katakanlah
Bila tutur dapat tertuang tuliskanlah
Dan saat aksi terlalu berteori
Segerakanlah bertindak
Kejahatan kan datang lagi

Awal hari pada tahun yang disebut suci
Semoga tak menjadi wacana ilusi
Puasa yang berakhir menjadi puisi
Tuhan bersama orang yang bergerak

Maaf semua tutur tertuang
Karena hanya itu tempat kita berkenal
Kasar kadang menyiksa khayal
Karena ekspresi kadang menyayat

Minal Aidzin Walfa Idzin
Mohon maaf lahir
Ridhakanlah batin
Aku berpasrah

idul fitri puisi syair

Harimu

Saat harimu seperti runtuh
Kesalahan terlihat utuh
Ingatlah kau ada di awal hari
Dan kau harus menyelamatkannya

Saat hari bahkan tak tertawa
Yang kau lakukan terdiam tanpa aksara
Saat itu kau tiada

Hanya kamu penyelamatmu
Disertai ridha tuhanmu bila kau percaya

Hari ini…
Untukmu jika kau mau

harimu puisi syair

"Aku mencoba bersalah kepada tuhan, Namun manusia menyulitkanku. Mungkin karena aku manusia juga dan manusia terlihat sedangkan tuhan tidak."
"Saat kau mendapatkan apa yang seharusnya didapatkan, terima dan relakanlah."
"Mengapa manusia memendam perkataan? Karena berpikir positif susah mengalahkan ketakutan yang negatif. Ya! Tentu saja! bila kau seorang pesimis tentunya"

Mudah

Aku mati suri
Setelah panggilan tuhan dikala fajar
Perasaan tertinggal surya memancar

Sekarang
Hilang kendali
Apa yang sebenarnya terjadi
Perasaan berubah terhenti

Aku mulai berubah
Para manusia pengkritisi
Mengapa batu keras?
Anggap saja variasi
Seharusnya bisa semudah ini

puisi syair mudah

Mandiri

Dunia privasi mulai kembali
Saat tak ingin aku masuk menjadi
Terlanjur datang dan ku sedang terbagi

Kala sempat ku nikmati tanpanya
Sekarang dia kembali
Tidak menghantui
Aku harus pergi dengannya sekarang

Permukaan jalan begitu tenang
Matahari tidak membuat gelombang
Pergi bergerak maju perlahan
Saat kawan hanyalah kemandirian

puisi syair mandiri

Pilihan

Hidup itu pilihan
Membuat pilihan tentunya

Mengapa hanya tercipta permasalahan?
Apakah dunia dibanjiri banyak kesedihan?
Apakah mawar memiliki hak melakukan pembelaan?

Keindahan sedang bungkam
Dalam riuhnya kesedihan yang dimana-mana didengungkan
Bagaimana bisa aku mendengar bisikan dari kebahagiaan

Telinga ini semakin aus termakan kehidupan
Dan lidah yang menjadi senjataku usang sudah dalam perkataan

Aku tidak lari
Berdiam pada keindahan palsu yang menyimpan seribu tanda tanya kelu
Lebih baik berseru dahulu
Segera tersenyum dan menggenggam hariku

Aku tidak lelah
Tidak akan menyerah marah
Pasti kukerah semua panah berarah

Damai
Satu harapku

puisi syair pilihan

"Apa ‘diam’ adalah pilihan agar semua ‘terlihat’ baik? bagiku tidak. Selalu ada cara untuk indah dalam tutur perkataan"