Mudah

Aku mati suri
Setelah panggilan tuhan dikala fajar
Perasaan tertinggal surya memancar

Sekarang
Hilang kendali
Apa yang sebenarnya terjadi
Perasaan berubah terhenti

Aku mulai berubah
Para manusia pengkritisi
Mengapa batu keras?
Anggap saja variasi
Seharusnya bisa semudah ini

puisi syair mudah

Mandiri

Dunia privasi mulai kembali
Saat tak ingin aku masuk menjadi
Terlanjur datang dan ku sedang terbagi

Kala sempat ku nikmati tanpanya
Sekarang dia kembali
Tidak menghantui
Aku harus pergi dengannya sekarang

Permukaan jalan begitu tenang
Matahari tidak membuat gelombang
Pergi bergerak maju perlahan
Saat kawan hanyalah kemandirian

puisi syair mandiri

Pilihan

Hidup itu pilihan
Membuat pilihan tentunya

Mengapa hanya tercipta permasalahan?
Apakah dunia dibanjiri banyak kesedihan?
Apakah mawar memiliki hak melakukan pembelaan?

Keindahan sedang bungkam
Dalam riuhnya kesedihan yang dimana-mana didengungkan
Bagaimana bisa aku mendengar bisikan dari kebahagiaan

Telinga ini semakin aus termakan kehidupan
Dan lidah yang menjadi senjataku usang sudah dalam perkataan

Aku tidak lari
Berdiam pada keindahan palsu yang menyimpan seribu tanda tanya kelu
Lebih baik berseru dahulu
Segera tersenyum dan menggenggam hariku

Aku tidak lelah
Tidak akan menyerah marah
Pasti kukerah semua panah berarah

Damai
Satu harapku

puisi syair pilihan

"Apa ‘diam’ adalah pilihan agar semua ‘terlihat’ baik? bagiku tidak. Selalu ada cara untuk indah dalam tutur perkataan"
"Bila banyak kata-kata dariku yang tidak diperlukan, itu karena aku tidak terlalu bijak untuk memilah perkataan."

Senandung Perkataan

Tak menyalahkan lidah
Dia tak bisa menahan perkataan
Perasaan akan menerima beban

Tak maksud menghancurkan
Aku mencoba sedamai angin di pegunungan
Namun sela-sela ranting pohon memecahnya jadi tak beraturan

Semoga terbahagiakan
Aku senang keadaan sekarang
Anggap ini pesan
Dari maaf yang tak tersampaikan

Kita tenang dan hari ini akan menang
Ini bukanlah kerikil tajam
Apalagi batu yang menunggu dihancurkan

Mengapa harus mengangkat batu untuk bisa berjalan
Bila kita punya sayap untuk terbang ke awan

puisi syair senandung perkataan

bodoh

semakin jauh ku berjalan
kau semakin dekat dalam ingatan
semakin sakit dalam harapan
terjaga dalam pahitnya dingin perasaan

kenapa harus berlarian
saat jarak kita berdekatan dalam jangkauan

puisi syair bodoh

dokter

aku kembali pada peraduan zaman
hentakan kebudayaan bergerak perlahan
santai…
semua seperti layaknya nyanyian hutan

gerakan merdu dari dandelion
diterbangkan angin pantai yang hangat
membawa dendam manis hampir mati
terangkat karena kehilafan sang dara
yang berkata dengan penuh jaya

aku membuatnya terluka
kita bergerak mencari dokter ternama
bagian terbaik cerita ini
kita seorang dokter

kisah sendu
merdu mengalun membawa pilu
seharusnya begitu

puisi syair dokter

tanpa nama

saat mereka bertatap
ada tatap yang kuharap harus lenyap
dan kuharap semua hilang menjadi buih-buih kesenyapan

dalam getir yang coba kusimpan
desir yang mulai tak tertahan untuk keluar
aku mencari pelarian
sebuah tawa penuh kepalsuan
membangun dunia khayalan

kupilih tinggalkan
kutelan semua bait pengabaian
entah sampai kapan

bila pengecut nama tengahku sekarang
biarkanlah tak apa
karena ku tak tahu aku siapa
jadi siapa yang kalian bicarakan
saat aku bahkan tak tahu diriku
dalam tatapan matamu

tanpa nama
aku menyebutku sekarang

puisi syair tanpa nama