A TEXT POST

Kepulan kesah

Dalam pekatnya sebuah penat
Dan untaian asap dari sebuah pesawat

Aku memandang atap
Dari setiap jejak air yang meresap

Pagi ini begitu pengap
Sampai tak sempat malam tadi hinggap
Siang sudah bersiap
Dan aku malah mulai menguap

Kepulan yang kunamakan lelah
Dan kubiarkan diriku kalah

Hari ini matahari menjadi musuh abadiku
Dalam waktu yang sangat terburu-buru

Selamat tidur teman kecilku
Walau bukan waktunya bagimu

A TEXT POST

Pura pura

Bila pertentangan ada
Semua orang takkan merasa
Dalam sayup yang dinamakan biasa

Dalam kesenyapan yang disebut tiada
Dan bunyi yang hilang dari telinga

Palingkan muka
Dan kau tidak disana
Semua hanya biasa

Sampai semua menjadi sirna
Dalam transformasi angkara
Yang berakhir pada murka

A TEXT POST

Tidak sekarang

Ku kan hilang dari dunia ini
Tapi tidak sekarang
Bukan saat aku sedang berani
Dan aku sangat berarti

Tapi ku kan padam
Memang begitu adanya
Semua pergerakan pasti teredam
Namun namaku terkecam

Buih pasti kembali pada ketiadaan
Ketiadaan dari laut
Yang menyampaikan suara lonceng
Lonceng perjuangan untuk kehidupan
Lonceng kedamaian saat kematian

A TEXT POST

lembaran aku

lembaran itu masih menemani

menemani di sisa kesendirianku

menunggu kata untuk maju

.

saat malam minggu menjadi candu

untuk orang selain diriku

lembaran itu terus menyapa tersipu

.

aku tidak terganggu…

mungkin

.

kini dia di hadapanku

melihatku sedikit terpaku

aku tidak malu

hanya pura-pura tidak tahu

karena aku tahu

kamu selalu disitu untuk menunggu

.

tenang saja

aku akan datang padamu

untuk memberimu satu akhir

yang tentu saja tidak palsu

A TEXT POST

Cahaya redup

Kamu bukan semesta
Dan tak usah kau merasa berjaya
Cahaya disana karena gelap ada
Dan kebaikan ada karena keburukan disana

Hitam tak selalu gelap
Setidaknya disini
Dimana cahaya tak berarti pertanda
Tak berarti sebuah kebaikan makna

Satu jarum akan membuka
Sang peredup cahaya yang ada
Atau pembawa terang yang bergembera

Saat itu aku kan ada
Untuk membuka semesta beserta isinya

A TEXT POST

Kenangan

Seratus langkah untuk satu lompatan
Satu akhiran untuk dua awalan baru
Punggungmu tak akan berkhianat
Dan kakimu menunggu hentakan

Tak akan tersapu angin
Atau tergerakan badai
Mereka berada di belakang sebagai rekanan
Dan bersiap di depan sebagai pertahanan

Tak mengharap satu tolehan
Atau tangisan pengharapan perbaikan
Mereka baik dan begitu adanya
Tangis akan membuatnya durja

Satu langkah ini membukanya
Dan tak cukup gerhana untuk menghentikannya

Selamat datang rekanan baru

A TEXT POST

Mimpi

Ku biarkan mereka pergi
Untuk mencari arti
Dan apa yang mereka sebut jati diri

Mungkin tak bisa dimengerti
Jika mimpi dapat dibeli
Tapi itulah realiti
Realiti yang tak akan pernah kupercayai

Dan akan ku pegang meskipun sendiri
Walau mati adalah harga mati

Ingat ini
Ku tak menghibur diri
Ku tak mengatakan ini sejati
Hanya ini yang kusebut realiti
Dan bukan sesuatu yang bisa dihargai

A TEXT POST

Air mata berhenti

Bila ada pundak untuk kusinggahi
Ingin kuturunkan air mata ini
Air mata yang lama kutahan berhenti
Berhenti untuk jadi sesuatu yang dapat ditertawai

Ku tak ingin menangis sendiri
Menunggu datangnya pagi
Dan semua tersenyum kembali
Dalam lengkung yang kusebut ilusi

Jadi ijinkan ku berhenti
Bukan untuk lari
Karena semua bergerak dengan hati

A TEXT POST

Hari ini

Terlalu banyak hari ini
Terlalu banyak untuk kuhinai

Tak sepatutnya ku mencaci
Tak layak bagi penghancur untuk menghibur diri

Teruntuk semua kasih tuhan aku kudustai
Dan kelebihan yang aku cemburui
Hanya penyesalan diri yang bisa diberi

Air mata tak akan memberi arti
Untuk mengerti tentang kesadaran diri

Ku akan rindukan hari ini
Untuk jadi candaan di satu sore nanti

A TEXT POST

Hujan untuk teman

Ku lihat bayang
Ku lihat hitam
Dan kemudian menggenggam
Dalam jutaan yang disebut kelam


Aku biarkan tenggelam
Tertindih dalam tekanan
Yang datang dari seorang rekan
Rekan yang aku lihat melebihi teman


Ku ragu untuk bertahan
Semua mulai menjadi beban
Kenapa harus aku yang tertekan
Kenapa aku harus menahan


Aku ingin hujan
Sedikit sembunyikan kepahitan
Dari air lain yang berjatuhan


Aku mohon tuhan
Aku lelah terlihat kasihan
Sendiri dalam pengasingan