Pesan Air

Aku air,
berubah bentuk menyerupai wadah. Mengalir deras mengikuti gravitasi. Lawan? Jangan buat candaan tentang aku kawan.

Tunggu musim dingin dan tatap aku terkunci dalam satu bentuk selama semusim, apa nasib kawan di kutub sana.

Matahari pagi ini membias di dihadapanku, apa artinya. Aku tak memiliki keinginan, sudah kuteguhkan diriku untuk selalu menyerah untuk semuanya.

Akulah zat adaptif, bentuk apa yang akan kau ciptakan? Rasa apa yang kau idamkan? Warna apa yang kau sukai? Aku akan mengabulkannya

Jangan pikirkan tentang aku, aku pun sudah tak memikirkan diriku. Disini hanya ada tentang kalian.

Lahirkan aku kembali dengan kemampuan pengabul harapan.

"Tuhan…
di akhir nanti, sisakan senyum untukku atau berikan senyumnya saat bibirku tak bisa membuat simpul"

anomali

bulan berganti,
pergantian aksi datang menghampiri
terbang, berenang dan menari-nari

banyak hal terekam
melebihi panjang waktu untuk menyimpan
melampaui satuan waktu untuk mengingat

pernahkah ada di kehidupan sebelumnya
apakah telepati telah tercipta saat ingkaran terjadi

apapun itu
selalu ada rongga di ruang waktu yang dihuni
anomali di hitungan ke tiga

puisi syair anomali

Dahan

Inilah guguran terakhir, dari daun kering yang kupandangi sepanjang hari dalam sebuah pertanyaan. Kehidupan…

Daun terakhir telah menyentuh tanah, dahan itu kehilangan segalanya dan tidak ada isak untuk kepergiannya. Musim telah berganti…

Langit memerah dan siap berdarah saat kekeringan terhenti. Tidak mati, menunggu hidup kembali. Harapan tak pernah mati.

Tidak ada pergantian tanpa kehilangan, tanpa keikhlasan. Aku meminta dahan, tanyakan banyaknya isakan pada akar. Dan akar terlalu sibuk untuk membuat kehidupan saat aku memikirkan dahan yang terlihat mengalami kekeringan.

dahan

Doa Dandelion

Tiupan ini permadaniku pergi. menyusuri belokan, taman gersang dan tempat kenangan lainnya.

Angin tambatkan aku di taman warna warni, dimana kasih tertata di atas meja bertahtakan emas dan berlian abadi. Tidak ada pilihan dalam harapan tanpa batas ini.

Berikan kuasa arah. kurajut singgasanaku terduduk dalam jubah kebesaran dunia ini.

Satu hal,
Artiku ada saat angin ini berhenti. Berpikirlah mereka para pemilik kuasa. Kedengkian ini tidak mengenal akhir.

dandelion

"Asalkan kikisannya ditampung masih ada bentuk lain yang dapat diciptakan. Baik dan buruk bentuknya kita yang menentukan"

air

sesak nafas
jantungku meminta banyak darah
kakiku membutuhkan tambahan kekuatan

kubiarkan jemariku berlari
menumpahkan air yang meluap
biarkan luapannya membanjiri
sekoci tolong datanglah kemari

akan kubeli dunia ini
untuk menampung semua airnya

puisi syair air

Para Bunda

Kepada para bunda,
Perantara pertemuanku atas izin-Nya
Relakan aku terus menatapnya
Mendengar hembusnya

Terima kasih semuanya
Memberi alasan senyumku hari ini
Menyimpan makna di atas tujuanku
Biar tuhan membalas semuanya

syair puisi para bunda

taman itu

inginku berlarian, terbaring dan memejamkan diri dari kehidupan
tambatkan aku pada sebuah taman

tengah deras pelarian yang kulakukan
aku menginginkan sebuah tujuan
dimana mimpiku memiliki sebuah alasan

genggam aku
agar aku dekat dengan alasan

puisi syair taman itu

pemecah

rindu ini menyebar,
bak buih lautan yang menyeretmu tenggelam
mengunci kakimu berjalan begitu pelan

suaramu bertahan
aku tenggelam dalam penantian
begitu lama sampai kau datang
haruskah kutahankan penantian ini?

kita adalah serangkaian takdir
setidaknya sampai kemarin
dimana tempat pemberhentian takdir selanjutnya?

kita tidak diciptakan oleh takdir
kitalah takdir dan penentu kejadian takdir
tuhan mengatakannya bukan?

aku kehabisan alasan
dan cinta tak memintanya

puisi syair pemecah